Selasa, 01 Februari 2011

PENGARUH KECEPATAN PERNAPASAN DAN TERMOREGULASI

I.       JUDUL                         :  Termoregulasi (Penyesuaian Hewan Poikilotermik Terhadap Suhu Lingkungan)

II.     TUJUAN                      :  1.   Mengamati adakah pengaruh suhu lingkungan terhadap respirasi ikan.
2.      Bagaimana pengaruh suhu lingkungan di dalam air terhadap respirasi ikan.
3.      Menentukan rentang penyesuaian ikan terhadap perubahan suhu lingkungan.

III.    TEORI
Pengaturan suhu tubuh (termoregulasi), pengaturan cairan tubuh, dan ekskresi adalah elemen-elemen dari homeostasis. Dalam termoregulasi dikenal adanya hewan berdarah dingin (cold-blood animals) dan hewan berdarah panas (warm-blood animals). Namun, ahli-ahli Biologi lebih suka menggunakan istilah ektoterm dan endoterm yang berhubungan dengan sumber panas utama tubuh hewan. Ektoterm adalah hewan yang panas tubuhnya berasal dari lingkungan (menyerap panas lingkungan). Suhu tubuh hewan ektoterm cenderung berfluktuasi, tergantung pada suhu lingkungan. Hewan dalam kelompok ini adalah anggota invertebrata, ikan, amphibia, dan reptilia. Sedangkan endoterm adalah hewan yang panas tubuhnya berasal dari hasil metabolisme. Suhu tubuh hewan ini lebih konstan. Endoterm umum dijumpai pada kelompok burung (Aves), dan mamalia. Pengaruh suhu pada lingkungan, hewan dibagi menjadi dua golongan, yaitu poikiloterm dan homoiterm. Poikiloterm suhu tubuhnya dipengaruhi oleh lingkungan. Suhu tubuh bagian dalam lebih tinggi dibandingkan dengan suhu tubuh luar. Hewan seperti ini juga disebut hewan berdarah dingin. Dan hewan homoiterm sering disebut hewan berdarah panas.
Pada hewan homoiterm suhunya lebih stabil, hal ini dikarenakan adanya reseptor dalam otaknya sehingga dapat mengatur suhu tubuh. Hewan homoiterm dapat melakukan aktifitas pada suhu lingkungan yang berbeda akibat dari kemampuan mengatur suhu tubuh. Hewan homoiterm mempunyai variasi temperatur normal yang dipengaruhi oleh faktor umur, faktor kelamin, faktor lingkungan, faktor panjang waktu siang dan malam, faktor makanan yang dikonsumsi dan faktor jenuh pencernaan air. Hewan berdarah panas adalah hewan yang dapat menjaga suhu tubuhnya, pada suhu-suhu tertentu yang konstan biasanya lebih tinggi dibandingkan lingkungan sekitarnya.
Sebagian panas hilang melalui proses radiasi, berkeringat yang menyejukkan badan. Melalui evaporasi berfungsi menjaga suhu tubuh agar tetap konstan. Contoh hewan berdarah panas adalah bangsa burung dan mamalia, hewan yang berdarah dingin adalah hewan yang suhu tubuhnya kira-kira sama dengan suhu lingkungan sekitarnya. Suhu tubuh tergantung pada neraca keseimbangan antara panas yang diproduksi atau diabsorbsi dengan panas yang hilang. Panas yang hilang dapat berlangsung secara radiasi, konveksi, konduksi dan evaporasi.
Radiasi adalah transfer energi secara elektromagnetik, tidak memerlukan medium untuk merambat dengan kecepatan cahaya. Konduksi merupakan transfer panas secara langsung antara dua materi padat yang berhubungan lansung tanpa ada transfer panas molekul. Panas menjalar dari yang suhunya tinggi kebagian yang memiliki suhu yang lebih rendah. Konveksi adalah suatu perambatan panas melalui aliran cairan atau gas. Besarnya konveksi tergantung pada luas kontak dan perbedaan suhu. Evaporasi merupakan konveksi dari zat cair menjadi uap air, besarnya laju konveksi kehilangan panas karena evaporasi.
Hewan mempunyai kemampuan adaptasi terhadap perubahan suhu lingkungan. Sebagai contoh, pada suhu dingin, mamalia dan burung akan meningkatkan laju metabolisme dengan perubahan hormon-hormon yang terlibat di dalamnya, sehingga meningkatkan produksi panas. Pada ektoterm (misal pada lebah madu), adaptasi terhadap suhu dingin dengan cara berkelompok dalam sarangnya. Hasil metabolisme lebah secara kelompok mampu menghasilkan panas di dalam sarangnya.
Beberapa adaptasi hewan untuk mengurangi kehilangan panas, misalnya adanya bulu dan rambut pada burung dan mamalia, otot, dan modifikasi sistim sirkulasi di bagian kulit. Kontriksi pembuluh darah di bagian kulit dan countercurrent heat exchange adalah salah satu cara untuk mengurangi kehilangan panas tubuh. Perilaku adalah hal yang penting dalam hubungannya dengan termoregulasi. Migrasi, relokasi, dan sembunyi ditemukan pada beberapa hewan untuk menurunkan atau menaikkan suhu tubuh. Gajah di daerah tropis untuk menurunkan suhu tubuh dengan cara mandi atau mengipaskan daun telinga ke tubuh. Manusia menggunakan pakaian adalah salah satu perilaku unik dalam termoregulasi.

Jenis-Jenis Dan Macam-Macam Adaptasi
1.   Adaptasi Morfologi
Adaptasi morfologi adalah penyesuaian pada organ tubuh yang disesuaikan dengan kebutuhan organisme hidup. Misalnya seperti gigi singa, harimau, citah, macan, dan sebagainya yang runcing dan tajam untuk makan daging. Sedangkan pada gigi sapi, kambing, kerbau, biri-biri, domba dan lain sebagainya tidak runcing dan tajam karena giginya lebih banyak dipakai untuk memotong rumput atau daun dan mengunyah makanan.

2.   Adaptasi Fisiologi
Adaptasi fisiologi adalah penyesuaian yang dipengaruhi oleh lingkungan sekitar yang menyebabkan adanya penyesuaian pada alat-alat tubuh untuk mempertahankan hidup dengan baik. Contoh adapatasi fisiologis adalah seperti pada binatang / hewan onta yang punya kantung air di punuknya untuk menyimpan air agar tahan tidak minum di padang pasir dalam jangka waktu yang lama serta pada anjing laut yang memiliki lapisan lemak yang tebal untuk bertahan di daerah dingin.

3.   Adaptasi Tingkah Laku
Adaptasi tingkah laku adalah penyesuaian mahkluk hidup pada tingkah laku / perilaku terhadap lingkungannya seperti pada binatang bunglon yang dapat berubah warna kulit sesuai dengan warna yang ada di lingkungan sekitarnya dengan tujuan untuk menyembunyikan diri.

IV.    ALAT DAN BAHAN 
Alat                                
·         Beaker glass 500 ml atau bak plastik
·         Termometer
·         Timbangan
·         Gelas ukur, Panci
Bahan
·         Air
·         Ikan
·         Es batu

V.     PROSEDUR KERJA
         5.1.   Pengaruh kenaikan suhu medium / air
1)      Air terlebih dahulu dipanaskan di dalam panci.
2)      Bak plastik/Beaker glass diisi dengan air suhu kamar, dan dicatat suhunya.
3)      Ikan yang digunakan ditimbang, kemudian dimasukkan ke dalam air dengan suhu kamar. Gerak operkulum dihitung selam 1 menit, dan diulang sebanyak tiga kali, diambil rata-ratanya.
4)      Suhu air dinaikkan sebesar 3 derajat dengan cara menuangkan air panas ke dalam bak sedikit demi sedikit. Jangan sampai air yang ditambahkan terkena ikan. Suhu diukur sampai yang dikehendaki, kemudian ukur operkulum per menit, perhitungan diulangi sebanyak tiga kali.
5)      Suhu terus dinaikkan sampai keseimbangan ikan mulai tidak normal. Gerakan tubuhnya terus diamati.

5.2.      Pengaruh penurunan suhu medium / air
1)      Langkah kerja untuk kegiatan ini dilakukan seperti prosedur di atas.
2)      Untuk menurunkan suhu dikerjakan dengan cara memasukkan air es ke dalam air suhu kamar sedikit demi sedikit, hingga suhu yang dikehendaki. Suhu diturunkan hingga intervalnya 3 derajat celcius di bawah suhu kamar.
3)      Penurunan suhu dihentikan jika keadaan ikan sudah tidak seimbang.
VI.  HASIL PENGAMATAN
1.   Pengaruh Kenaikan Suhu Medium/Air

Berat Ikan (g)
Gerakan Operkulum / Menit
30oC
33 oC
36oC
39 oC
I
II
I
II
I
II
I
II

17,9
59
55
60
66
70
66
25
-
Rata-rata
57
42
32,5
12,5

2.      Pengaruh Kenaikan Suhu Medium/Air

Berat Ikan (g)
Gerakan Operkulum / Menit
30oC
27 oC
24 oC
21 oC
I
II
I
II
I
II
I
II

21,9
59
55
41
43
37
28
-
-
Rata-rata
57
42
32,5
-


VII.     PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini, kami melakukan kegiatan yang berkaitan dengan termoregulasi terutama pada hewan poikilotermik. Hewan poikilotermik yang menjadi sampel percobaan adalah ikan betok. Tujuan praktikum ini adalah untuk mengetahui pengaruh suhu terhadap respirasi pada ikan tersebut.
Seperti yang kita ketahui bahwa ikan merupakan hewan poikilotermik. Artinya, dalam mekanisme termoregulasinya ikan memiliki ketergantungan suhu terhadap lingkungannya. Hal ini dapat dibuktikan dengan percobaan menaikkan dan menurunkan suhu air tempat ikan tersebut hidup. Dari hasil pengamatan pada kegiatan pertama (pengaruh kenaikan suhu air) dapat dilihat bahwa semakin tinggi suhu dinaikkan dari suhu normal, maka gerakan operkulum juga semakin meningkat. Ketika suhu dinaikkan maka akan terjadi penurunan O2 dalam air, sehingga gerakan operkulum ikan juga semakin meningkat. Hal ini dikarenakan molekul air lebih padat dan lebih sulit bergerak atau mengalir, sehingga memungkinkan air jauh lebih sulit mengalir ke organ pernafasan. Oleh karena itu, ikan harus mengeluarkan energi lebih banyak. Kandungan O2 dalam air jauh lebih rendah daripada di udara yakni 10 ml O2/liter. Hal ini dapat mempersulit ikan untuk memperoleh O2, apalagi dengan perlakuan berupa menaikkan dan menurunkan suhu dari kamar (26°C).
Ketidakseimbangan ikan pada suhu 39°C, setelah suhu dinaikan terus-menerus dikarenakan perubahan suhu lingkungan yang begitu cepat yaitu dari suhu normal menjadi semakin tinggi. Pada saat menaikan suhu lingkungan, proses pernafasan yang dilakukan oleh ikan berlangsung sangat cepat yang dibuktikan dengan meningkatnyya intensitas gerakan operkulum membuka dan menutup. Hal ini di akibatkan kadar O2 dalam air menjadi semakin berkurang sehingga memacu kerja operkulum dan mempercepat metabolisme tubuh.
Selanjutnya, dari hasil pengamatan pada kegiatan kedua (pengaruh penurunan suhu air) dapat dilihat bahwa semakin suhu diturunkan dari suhu normal, maka gerakan operkulum juga semakin rendah. Hal ini menunjukkan bahwa semakin rendah suhu pada lingkungan maka intensitas gerakan operkulum semakin lambat dikarenakan proses metabolisme berjalan lambat dan memperlambat kerja organ pernafasan pada ikan karena membekunya berbagai organ vital.
Hewan poikilotermik seperti ikan, mempertahankan kondisi tubuhnya ikan beradaptasi dengan cara konformitas yaitu menyesuaikan lingkungan internal tubuhnya dengan lingkungan eksternalnya. Salah satu bentuk adaptasinya adalah penyesuaian dengan suhu lingkungannya, sehingga ikan dapat dikatakan sebagai termokonformer. Setiap organisme termasuk hewan poikilotermik, memiliki rentang toleransi terhadap perubahan suhu lingkungan. Ketika terjadi perubahan suhu lingkungan, maka organisme akan melakukan proses homeostasis agar dapat bertahan dan menyesuaikan diri dengan lingkungan. Akan tetapi, jika perubahan suhu lingkungan ini melebihi batas toleransi hewan tersebut (suhu ekstrem), maka dapat dipastikan hewan tersebut tidak mampu bertahan. Inilah sebabnya pada suhu 39oC dan 21oC, ikan betok tidak mampu lagi menyusuaikan diri terhadap suhu lingkungannya dan akhirnya mati. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa ikan betok ini memiliki rentang penyesuaian diri terhadap perubahan lingkungan yaitu 24oC – 36oC.
Kebutuhan O2 pada ikan selain dipengaruhi oleh suhu lingkungan juga dipengaruhi oleh berat badan. Semakin berat massa ikan maka kebutuhan O2 semakin sedikit. Karena berat tubuh merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kebutuhan O2 dalam tubuh ikan. Dalam percobaan ini, air yang tidak dinaikkan maupun diturunkan suhunya (30oC) berfungsi sebagai kontrol. Kontrol ini dapat dijadikan patokan untuk melihat apakah pengaruh jika suhu dinaikkan ataupun diturunkan.




VIII. KESIMPULAN
a.      Ikan termasuk hewan poikilotermik karena ikan menyesuaikan suhu di dalam tubuh dengan perubahan suhu lingkungan.
b.     Semakin tinggi suhu dinaikkan dari suhu normal, maka gerakan operkulum juga semakin meningkat. Semakin rendah suhu pada lingkungan maka intensitas gerakan operkulum semakin lambat.
c.      Hewan poikilotermik memiliki rentang toleransi terhadap perubahan suhu lingkungan. Ketika terjadi perubahan suhu lingkungan, maka organisme akan melakukan proses homeostasis agar dapat bertahan dan menyesuaikan diri dengan lingkungan.
d.     Jika perubahan suhu lingkungan ini melebihi batas toleransi hewan tersebut (suhu ekstrem), maka dapat dipastikan hewan tersebut tidak mampu bertahan.

IX.    DAFTAR PUSTAKA

Friliawindy. 2010. Hewan Poikiloterm Terhadap O2 Lingkungan. http://friliawindy.blogspot.com/. Diakses pada tanggal 29 Desember 2010.

Jumat, 28 Januari 2011

Mengenal Aspek Kehidupan Biologi Kera Ekor Panjang

Hai para pembaca violetblog, saya mau kasih info nih tentang kehidupan kera ekor panjang. Dibaca yah teman-teman dan semoga bermanfaat J

Populasi mammalia di zaman sekarang adalah populasi yang terbesar mengingat bahwa tingkatan dan struktur tubuhnya lebih tinggi dari kelas lainnya. Salah satu ordo dari kelas mammalia adalah primata. Di dalam kehidupan kita sangat banyak ditemukan adanya golongan primata. Kita pun sebagai manusia, ditinjau dari struktur luar, fisiologi dan struktur dalam termasuk dalam golongan primata. Oleh karena itu, kami mahasiswa-mahasiswa FKIP Biologi UNSRI melakukan pengamatan untuk melihat hubungan kekerabatan antara manusia dengan hewan primata lainnya.
  Pengamatan ini dikhususkan pada kera ekor panjang / monyet (Macaca fascicularis) yang termasuk ke dalam golongan primata. Sebagai golongan primata, monyet memiliki struktur tubuh yang hampir sama dengan manusia. Akan tetapi, pada kegiatan ini kita melihat hubungan kekerabatan antara manusia dengan monyet dari segi aktivitas hidupnya dan aspek-aspek biologi yang berkaitan.
  Populasi kera ekor panjang (Macaca fascicularis) yang ada di Kompleks Makam Ratu Bagus Kuning (KMBRK) merupakan populasi kera yang terkonservasi di tengah kota. Lazimnya populasi kera, kera ekor panjang di KMRBK Palembang memiliki struktur dan susunan kelompok yang anggotannya menempati posisi tertentu. struktur ini misalnya kelompok usia, jenis kelamin, dan kelompok sosial. kelompok sosial terdiri dari jantan pemimpin, jantan wakil pemimpin, jantan biasa, dan betina. oleh karen adanya struktur yang unik ini, maka diduga terdapat pola-pola perilaku yang terekspresi dalam aktifitas hariannya. aktifitas harian meliputi aktifitas makan, bemain, grooming, kawin, istirahat, berkelahi, dan pemeliharaan anak.
  Dari pengamatan ini diharapkan kita dapat mempelajari pola tingkah laku dari kera ekor panjang tersebut sehingga dapat melihat apakah ada hubungan kekerabatan antara manusia dengan hewan tersebut.

DASAR TEORI

Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis)
Klasifikasi dan Morfologi
Menurut Lang (2006) taksonomi monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) sebagai berikut :
Kelas               : Mamalia
Ordo                : Primata
Sub Ordo        : Anthropoidea
Infra Ordo       : Catarrhini
Super Famli     : Cercopithecoidea
Famili              : Cercopithecidae
Genus              : Macaca
Spesies            : Macaca fascicularis

Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) adalah satwa primata yang  menggunakan kaki depan dan belakang dalam berbagai variasi untuk berjalan dan berlari (quandrapedalisme), memiliki ekor yang lebih panjang dari panjang kepala dan badan. Disamping itu memiliki bantalan duduk (ischial sallosity) yang melekat pada tulang duduk (ischial) dan memiliki kantong makanan di pipi (cheek pouches).
Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) mempunyai dua warna utama yaitu coklat keabu-abuan dan kemerah-merahan dengan berbagai variasi warna menurut musim, umur dan lokasi (Lekagul dan McNeely, 1977). Napier dan Napier (1985) secara umum menyatakan warna bulu monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) agak kecoklatan sampai abu-abu, pada bagian punggung lebih gelap dibanding dengan bagian perut dan dada, rambut kepalanya pendek tertarik kebelakang dahi, rambut-rambut sekeliling wajahnya berbentuk jambang yang lebat, ekornya tertutup bulu halus.

Habitat
Habitat monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) tersebar mulai dari hutan hujan tropika, hutan musim sampai hutan rawa-mangrove. Disamping itu juga terdapat di hutan iklim sedang (Cina dan Jepang) (Napier dan Napier, 1985). Supriatna dan Wahyono (2000) menyatakan bahwa monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) hidup pada habitat hutan primer dan sekunder mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi sekitar 1.000 m di atas permukaan laut.

Karaktiristik dan Kegiatan
Menurut Davies dan Krebs (1978), tingkah laku atau aktivitas hewan dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor luar dan faktor dalam individu. Faktor dari dalam antara lain hormon dan sistim syaraf, sedangkan faktor luar yang berpengaruh terhadap aktivitas hewan adalah cahaya, suhu, suara dan kelembaban. Smith dan Mangkoewidjojo (1988) menyatakan bahwa genus Macaca sp. memiliki lama hidup 25–30 tahun, lama bunting 167 hari, umur disapih 5–6 bulan, umur dewasa 4,5–6,5 tahun, umur dikawinkan 36–48 bulan, siklus estrus 31 hari, periode estrus tiga sampai empat hari. Perkawinan terjadi sewaktu-waktu, ovulasi spontan pada hari kedua belas atau ketiga belas pada siklus estrus, implantasi 15–21 hari sesudah fertilisasi, jumlah anak satu ekor, jarang terjadi beranak dua ekor.
Aldrich-Blake (1976) menyatakan bahwa pembagia waktu aktivitas harian monyet ekor panjang di alam terdiri dari 35% untuk makan, 20% untuk penjelajahan, 34% untuk istirahat, 12% untuk grooming dan kurang dari 0,5% untuk aktivitas lainnya. Data tersebut menunjukan bahw aktivitas harian mnyet ekor panjang di alam didominsi oleh aktivitas makan dan istirahat.

Nah…teman-teman,, ini dia hasil pengamatan yang telah kami lakukan di sekitar komplek Bagus Kuning.. J

HASIL OBSERVASI DAN PEMBAHASAN

Aktivitas
Pengamatan ke-1
1
3
5
7
9
11
13
15
17
19
Istirahat
ü
ü
ü
ü
ü
ü




Makan
ü
ü
ü
ü
ü
ü
ü
ü
ü
ü
Grooming
ü
ü
ü
ü
ü
ü
ü
ü
ü
ü
Bergerak
ü
ü
ü
ü






Mencari Makan
ü
ü
ü
ü






Berkelahi
ü
ü
ü
ü
ü
ü
ü
ü


Kawin
ü
ü
ü
ü
ü
ü
ü
ü


Bermain
ü
ü
ü
ü






Menyusui
ü
ü
ü







Menggendong anak
ü
ü
ü







JUMLAH











Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, populasi kera ekor panjang di Makam Ratu Bagus Kuning di tahun 2010 ini cukup banyak yakni diperkirakan sekitar 150 ekor yang masih bisa bertahan hidup sampai saat ini. Berdasarkan hasil pengamatan dapat dilihat bahwa populasi kera berjenis kelamin jantan jumlahnya lebih banyak dilihat dari alat kelamin kera tersebut. Kera berjenis kelamin betina juga banyak namun tidak sebanyak kera jantan selain itu lebih kurang ada lima ekor kera yang masih bayi dan masih menyusu dengan induknya sedangkan kera-kera yang masih muda jumlahnya juga lumayan banyak namun tidak lebih banyak dari kera dewasa.
Pada saat akan menentukan jumlah kera yang berjenis kelamin jantan dan kera yang berjenis kelamin betina dan perkiraan strata perkembangan dilakukan dengan melihat alat kelamin kera dan postur tubuh kera. Untuk bayi kera rambut hitam dan terlihat agak gundul, badan masih kurus dan kecil  dan selalu dalam lindungan (gendongan) induknya, untuk jenis kelamin susah untuk diketahui karena bayi kera selalu dalam gendongan. Kera muda sudah hidup sendiri, postur tubuh masih lumayan kecil namun sudah jauh lebih besar daripada bayi kera dan mencari makan sendiri namun untuk menentukan jenis kelamin lumayan susah dilakukan karena belum terlalu jelas, sedangan kera dewasa sangat jelas bisa dibedakan kera jantan mempunyai postur tubuh yang besar, bercambang lebat yang mengelilingi muka, serta penis dan skrotum terlihat jelas, untuk kera betina postur tubuh besar namun lebih kecil dari jantan dewasa, memiliki vagina dan putting susu yang telah berkembang di bagian dada.
Terdapat pula raja kera yang disebut dengan panggilan “kondor”. Sebutan ini bukan tidak ada arti melainkan sang raja kera yang memiliki kekurangan yakni alat kelaminnya yang besar sebelah. Postur tubuhnya paling besar dibandingkan dengan kera jantan biasa lainnya. Cambangnya sangat lebat, jika pada jantan biasa diatas kelopak mata biasanya berwarna putih sedangkan pada raja kera berwarna merah. Dari tabel pengamatan mengenai perilaku atau aktivitas kera ekor panjang di Makam Ratu Bagus Kuning dapat dilihat jika perilaku yang disebutkan secara teori terbukti secara nyata di lapangan. Aktivitas yang dimaksud antara lain :

1.      Aktivitas mencari makan yakni bergerak aktif mendapatkan sumber makanan
Pada aktivitas ini dapat dilihat bahwa kera dari berbagai usia aktif mencari makan untuk mempertahankan kelangsungan hidup mereka. Hampir seluruh kera yang ada di Makam Ratu Bagus kuning beraktivitas mencari makan dengan cara mendekati para pengunjung. Dari aktivitas mencari makan ini, dapat dilihat jika kera bergerak sangat aktif apalagi jika kera melihat ada pengunjung yang membawa makanan, secara spontan kera mendekat ingin mencoba mengambil makanan dari tangan pengunjung. Selain itu, pada saat aktivitas mencari makan ini, beberapa kera berkelahi kecil atau bahkan bisa saling berkejar-kejaran demi memperebutkan makanan. Tidak jarang kera mengejar pengunjung demi mendapatkan makanan, bahkan pengunjung yang membuka tas saja kera sudah mendekati pengunjung makam.


IMG_2684
 









Gambar 1. Salah satu monyet yang mendapatkan makanan dari hasil rebutan

2.      Aktivitas bergerak
Aktivitas ini tentu saja dapat dilihat mulai dari luar sampai masuk ke dalam makam sebagai habitat kera ekor panjang ini di tengah kota Palembang. Hampir seluruh kera yang ada di Makam Ratu Bagus kuning beraktivitas bergerak. Aktivitas gerak meliputi berpindah tempatnya kera dari satu tempat ke tempat lain. Gerak tersebut seperti gerak aktif saat mencari makan, gerak pada saat bergelayutan di pohon, gerak dari satu tempat ke tempat lain, dan gerak saat bermain-main.


 








Gambar 2. Aktivitas monyet saling berkejar-kejaran dan bergelantungan di pohon

3.      Aktivitas makan
Aktivitas dimana kera-kera memakan makanan yang didapatkannya. Hampir seluruh kera yang ada di Makam Ratu Bagus kuning beraktivitas makan yang didapatkannya dari pemberian pengunjung. Kera pintar dalam memakan makanan mereka. Kera bertindak seperti manusia pada saat makan. Jika makanan yang didapatkannya menuntut harus melepaskan kulitnya sebelum dimakan, maka seperti halnya manusia, kera juga melakukan hal yang sama tanpa perlu diberitahukan.


IMG_2623
 










Gambar 3. Aktivitas monyet yang sedang mengupas pisang (makanan)

4.      Aktivitas istirahat yakni aktivitas yang cenderung bahkan tidak dilakukan, berbaring atau duduk
Aktivitas ini biasanya dilakukan kera setelah mereka melakukan aktivitas mencari makan dan makan. Aktivitas ini hanya dilakukan beberapa ekor saja  ketika pertama kali Makam Ratu Bagus Kuning didatangi, namun setelah di atas jam 12 setelah jam makan siang kera yang beristirahat bertambah, bahkan sampai ada yang tidur siang dengan pulas dan ada juga yang hanya bersantai berleha-leha. Aktivitas ini biasanya dilakukan oleh kera pada saat siang hari layaknya manusia yang melakukan aktivitas tidur di siang hari. Selain itu, aktvitas ini pasti selalu dilakukan pada malam hari di saat waktu tidur tiba.


IMG_2689
 









Gambar 4. Aktivitas monyet yang sedang duduk / beristirahat setelah lelah bergerak

5.      Aktivitas grooming, yakni kegiatan berupa membersihkan badan dengan menggunakan tangan, baik dilakukan terhadap dirinya sendiri maupun terhadap kera lain
Dalam bahasa sehari-hari grooming merupakan kegiatan mencari kutu. Aktivitas ini dilakukan oleh kera disela-sela kegiatannya mencari makan. Ada pula yang memang sibuk melakukan aktivitas grooming dari awal dan tidak memperdulikan kera lain yang sibuk mencari makan. Ada kera yang dicarikan kutu sampai terlentang tidak peduli dengan sekitar, bahkan ada yang melakukan aktivitas ini sampai berderet tiga. Ada pula seekor induk kera melakukan grooming terhadap anak yang sedang digendong dan menyusu kepadanya. Grooming sendiri bertujuan untuk membersihkan dan memelihara diri dari parasit maupun kotoran, selain itu juga untuk membangun dan menjaga serta memperkuat ikatan sosial.


IMG_2642
 











Gambar 5. Aktivitas dua monyet yang sedang grooming (membersihkan tubuh)

6.       Aktivitas bermain
Aktivitas ini meliputi bergelut atau seolah-olah berkelahi dengan individu lain dan berayun-ayun di pohon. Aktivitas ini dilakukan oleh beberapa kera dewasa dan lumayan banyak dilakukan oleh kera muda. Sambil melakukan aktivitas ini tidak jarang kera mengeluarkan suara-suara khas mereka.


IMG_2617
 










Gambar 6. Aktivitas memanjat pohon merupakan salah satu cara mereka bermain

7.      Aktivitas pemeliharaan anak
Aktivitas ini meliputi menggendong anak, menyusui, memberi makan, memberikan perlindungan, grooming, dan bermain. Sebagian besar aktivitas ini dilakukan oleh kera betina dewasa, hal ini terlihat jelas ada sekitar 3 sampai 5 ekor kera betina dewasa yang menggendong anak sambil menyusui anaknya. Disela-sela kegiatan itu juga kera betina melakukan aktivitas grooming terhadap anaknya. Bayi-bayi kera tidak pernah lepas dari gendongan kera betina dewasa meskipun kera-kera betina tersebut bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya. Kera betina memeluk erat bayinya ketika pengunjung mencoba mengambil foto dan berusaha mendekati kera.

IMG_2595 








Gambar 7. Aktivitas induk yang sedang menyusui anaknya (kiri) dan membersihkan tubuh anaknya (kanan)

8.      Aktivitas berkelahi yakni menyerang dan mempertahankan diri yang disertai individu yang lain
Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, aktivitas ini biasa dilakukan oleh kebanyakan kera jantan, namun bukan berarti tidak dilakukan oleh kera betina. Biasanya aktivitas ini terjadi pada saat kera berebut makanan atau bahkan memperebutkan betina pada saat kawin. Aktivitas berkelahi ini sering menimbulkan suara gaduh yang bisa membuat pengunjung ketakutan. Aktivitas berkelahi juga bertujuan untuk mempertahankan wilayah teritorial dari jenisnya. Selain itu, sebagai cara untuk mendapatkan pemimpin atau raja yang baru. Lima calon raja harus bertanding dengan raja terdahulu sampai akhirnya satu calon raja baru dapat mengalahkan raja lama. Mereka mematahkan lawan dengan cara menggigit di bagian tekuk kepala sehingga lukanya dikerumuni oleh belatung dan akhirnya mati.

9.      Aktivitas kawin, yakni jantan mengejar betina dan penetrasi alat kelamin jantan ke betina
Di lapangan terlihat kurang lebih 10 ekor kera yang kawin, tidak bisa dipastikan apakah ke sepuluh kera tersebut kera yang sam atau kera yang lainnya. Namun yang terlihat ada 10 kali kera yang kawin. Kera tersebut mengejar betinanya dan melakukan penetrasi alat kelaminnya. Menurut kuncennya kera bisa kawin 44 kali dalam sehari selain itu kera tersebut terlihat sangat agresif terhadap pengunjung wanita. Ada kera yang sampai mengikuti kemana saja pengunjung wanita pergi. Bahkan ada yang sampai mengelus-elus kaki pengunjung wanita sampai mengeluarkan sperma. Terlihat jika pada saat itu libido kera sangat tinggi. Seringnya aktivitas kawin pada monyet ini juga tergantung dari jenis makanan yang dimakannya dalam sehari.

IMG_2597 










Gambar 9. Aktivitas kawin antara monyet jantan dengan monyet betina

            Jika ditinjau dari habitat kera yang berada di dekat lapangan golf dan berada di tengah kota sulit untuk dibayangkan jika ada sekitar 150 ekor kera yang masih bertahan hidup. Hal ini tentu saja menimbulkan pertanyaan dari mana saja mereka mendapat makanan. Kera yang hidup di tengah kota sudah memiliki sifat yang sudah sedikit berbeda yakni lumayan jinak. Tidak jarang kera-kera ini mencari makanan hingga komplek perumahan yang berada di sekitar habitat kera ini.

Nah, teman-teman ada sedikit kendala dalam pengamatan ini.. silahkan dibaca sampai tuntas yah teman-teman... J

MENGIDENTIFIKASI PERMASALAHAN DI DAERAH STUDI DAN KENDALA ATAU HAMBATAN

Dari pengamatan kami mengenai area studi yang dikunjungi, ada beberapa faktor yang menjadi kendala dalam pelaksanaan kegiatan ini baik dari praktikan maupun di daerah studi yang dikunjungi. Beberapa kendala yang dihadapi praktikan adalah kurang tahunya praktikan mengenai daerah yang akan dituju. Selanjutnya adalah ternyata area studi tersebut terletak ditengah-tengah lapangan golf yang tentu saja hal ini menyulitkan praktikan untuk mencapai area studi yang dituju.
Untuk kendala dari area itu sendiri yaitu banyaknya makam sehingga praktikan harus berhati-hati dalam melakukan kegiatannya. Kemudian, adanya lapangan golf di sekitar area studi mungkin mengganggu aktivitas dari monyet itu sendiri karena, tempat hidupnya menjadi sempit. Selain itu, seringnya interaksi monyet dengan manusia  menyebabkan monyet menjadi tidak takut dengan manusia karena, di area tersebut terdapat makam Ratu Bagus Kuning yang setiap harinya masyarakat datang untuk berziarah.

KESIMPULAN

Dari hasil pengamatan langsung yang kami lakukan mengenai primate (monyet) di daerah kompleks Makam Ratu Bagus Kuning dapat disimpulkan bahwa:
1)      Monyet adalah golongan primata yang memiliki kelakuan hampir sama dengan manusia sehingga keduanya memiliki hubungan kekerabatan.
2)      Monyet melakukan berbagai aktivitas yaitu makan, minum, tidur, berkelahi, mencari kutu, bermain, menyusui dan kawin.
3)      Raja monyet dapat kawin beberapa kali sehari (dari penelitian selama 3 jam diketahui raja monyet kawin sebanyak >4 kali).
4)      Di kompleks makam Raja Bagus Kuning hingga sekarang terdapat sekitar 200 monyet.
5)      Aktivitas golf di sekitar area tempat hidup monyet membuat mereka lebih aman untuk berada di sekitar makam.

Sekian teman-teman info yang bisa saya kasih tentang kehidupan kera ekor panjang ini. Semoga bermanfaat yah.. Kalo ada yang tanya apa kita mirip sama kera,, bisa jawab sendiri kan.. hehehehe J

DAFTAR PUSTAKA


Slamet, Adeng dan Kodri Madang. 2010. Bahan Ajar Zoologi Vertebrata. Inderalaya : Universitas Sriwijaya.

Slamet, Adeng dan Kodri Madang. 2010. Penuntun Praktikum Taksonomi Vertebrata. Inderalaya : Universitas Sriwijaya.

Santosa, Yanto. 1996. Beberapa Parameter Bio-Ekologi Penting Dalam Pengusahaan Monyet Ekor Panjang (Macac fascicularis). http://e-jurnal.perpustakaan.ipb.ac.id. Diakses tanggal 8 Juni 2010.

Sari, Dianti Destia. 2009. Profil Darah Monyet Ekor Panjang (MacacaFascicularis) yang Diberi Pakan Berenergi Tinggi pada Periode Obesitas Empat Bulan Kedua. http://scribd.com. Diakses tgl 8 Juni 2010.