A. EKOSISTEM HUTAN
Hutan yang sangat sering ditemui di wilayah negara Indonesia adalah hutan hujan tropis. Adapun ciri-ciri dari hutan hujan tropis adalah :
• Umumnya terletak di daerah katulistiwa
• Merupakan ekosistem dengan keanekaragaman yang tinggi
• Curah hujan tinggi (200-450 cm pertahun)
• Mendapat sinar matahari sepanjang tahun
Menurut Nilson (1996) dalam Gardner & Engelman di tahun 1999, hutan memiliki beberapa fungsi yaitu sebadai berikut :
1. Menghasilkan kayu industri
2. Menghasilkan kayu bakar & arang
3. Menghasilkan hasil hutan bukan kayu
4. Menyediakan lahan untuk permukiman manusia
5. Menyediakan lahan untuk lahan pertanian
6. Memberikan perlindungan thd siklus air dalam DAS & pengendalian erosi
7. Tempat penyimpanan karbon
8. Pemeliharaan keanekaragaman hayati dan habitat
9. Obyek ekoturisme dan rekreasi alam
Seperti yang telah kita ketahui, semakin besar dan penting fungsi hutan maka semakin besar pula kegunaannya bagi kehidupan manusia. Sehingga manusia akan memanfaatkan fungsi hutan tersebut agar dapat menjadi sumber daya yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun, secara tidak disadari pengelolaan yang tidak berbasis pada pelestarian lingkungan mengakibatkan masalah-masalah yang dialami oleh ekosistem hutan tersebut. Masalah-masalah di ekosistem hutan yang sering terjadi antara lain :
1. Kemiskinan di lingkungan hutan.
2. Penggundulan hutan dan penebangan hutan secara liar dan illegal.
3. Menggunakan pembiayaan karbon global untuk mengurangi kerusakan hutan.
4. Kebakaran
5. Angin
6. Serangga penyakit
7. Satwa herbifora
8. Ternak
9. Konversi, dll
Masalah-masalah yang terjadi di ekosistem tersebut tentu akan mengganggu stabilitas hutan tersebut. Pada akhirnya, muncul akibat-akibat yang sangat fatal dan kini sering terjadi di kehidupan manusia yang pasti merugikan mausia itu sendiri. Adapun akibat yang terjadi dari masalah-masalah yang ada di ekosistem hutan yaitu:
1. Penggundulan hutan tropis merupakan penyumbang besar atas gas rumah kaca global. Akibat dari gas rumah kaca global (Global Warming) ini adalah menipisnya lapisan ozon; pemanasan global (kadar CO2 yang tinggi akibat aktivitas manusia menyebabkan suhu permukaan bumi meningkat); efek rumah kaca.
2. Penebangan hutan secara liar juga dapat menyebabkan :
§ Peningkatan suhu udara
§ Terjadinya banjir
§ Krisis air
§ Punahnya banyak spesies makhluk hidup
§ Polusi udara semakin meningkat
Contoh nyata dari kerusakan hutan yang sedang terjadi di Indonesia adalah masalah hutan di Aceh. Pasca Tsunami yang terjadi di Aceh, kejadian illegal logging makin marak terdengar. Selain itu, terjadi pula aktivitas konversi hutan ke peruntukan lain misalnya, investasi perkebunan skala besar baik sebelum dan yang akan datang, pembangunan jalan yang merusak kawasan hutan. Masalah lain yang terjadi di Aceh yaitu terancam rusaknya kawasan konservasi dan lindung akibat illegal logging dan perdagangan kayu illegal yang disebabkan penjualan kayu illegal dari aceh keluar aceh. Hal ini disebabkan juga karena sistem pengelolaan yang eksploitatif (berbasis ekonomi/pad). Kemudian, masalah yang sering terdengar adalah masalah regulasi yang tidak berbasis pada pengelolaan berkelanjutan (qanun 14 dan 15 ttg kehutanan dan perijinan kehutanan), lemahnya pengawasan dan kontrol (kkn, sdm, dll), minimnya akses masyarakat dalam pengelolaan hutan, kebutuhan kayu untuk rekonstruksi (desakan untuk mempercepat pembangunan pemukiman dan sarana lainnya) serta konflik satwa liar dan manusia (gajah dan harimau).
Munculnya masalah-masalah di ekosistem hutan dan melihat dampak-dampak yang akan terjadi dari masalah tersebut, seharusnya kita sebagai manusia yang memanfaatkan sumber daya yang tersedia di hutan lebih memperhatikan kelestarian hutan tersebut. Hal-hal yang dapat kita lakukan antara lain adalah sebagai berikut :
1. Menjaga lingkungan kita agar dapat terus menyediakan sumberdaya yang dibutuhkan.
2. Menjaga lingkungan kita agar berada dalam kondisi yang diperlukan.
3. Cegah penyebaran kebakaran hutan, terutama di tanah gambut.
4. Clarify kepemilikan tanah dan pohon.
5. Mendukung wanatani oleh petani kecil.
6. Tegakkan hukum terhadap penggundulan hutan ilegal, terutama oleh organisasi berskala besar.
7. Mengelola lingkungan untuk produksi dan layanan lingkungan.
8. Cegah pembukaan lahan dan pengambilan kayu yang tidak teratur.
B. EKOSISTEM BINAAN MANUSIA
Ekosistem binaan membutuhkan pengelolaan dan penambahan energi/materi oleh manusia agar dapat dipertahankan dalam kondisinya. Ekosistem binaan/terbangun terdiri dari waduk, lahan pertanian, pertambangan, pertanian, industri, peternakan, perkebunan, dan sebagainya.
Adapun masalah yang sering terjadi di ekosistem binaan manusia adalah sebagai berikut :
• Kekeringan sehingga terjadi kegagalan panen.
• Hama dan hewan perusak tanaman di lahan pertanian dan perkebunan.
• Tidak tersedianya lahan yang cukup.
• Rusaknya tanaman akibat curah hujan yang berlebihan.
• Muncul berbagai penyakit yang menyerang hewan ternak.
• Penggunaan pestisida yang terlalu banyak.
• Pembuangan limbah industri dan tambang yang kurang terkoordinir.
• Kurangnya fasilitasi yang menunjang kegiatan produksi.
• Dll.
Namun secara tidak disadari, ekosistem binaan manusia tersebut menimbulkan permasalahan lingkungan yang serius akibat pengelolaan yang kurang baik. Masalah lingkungan yang ditimbulkan antara lain :
1. Karena Pertanian
§ Pembukaan hutan (kegiatan pembabat-an dan pembakaran) dapat menghilangkan keanekaragaman hayati.
§ Karena pertanian berpindah: maka fungsi hutan menjadi padang rumput.
§ Kerusakan lingkungan yang terjadi:
o Pada musim kemarau: terjadi kekeringan (el nino).
o Pada musim hujan: terjadi banjir (la nina).
2. Karena Peternakan
§ Karena jumlah penduduk meningkat, maka kebutuhan makan juga meningkat: kebutuhkan hewan meningkat.
§ Untuk peternakan dibutuhkan lahan dan tumbuh2an sehingga lahan jadi tandus.
3. Karena Industrialisasi
§ Kebutuhan eksplorasi minyak bumi meningkat, sehingga
§ Terjadi pencemaran udara
§ Terjadi pencemaran air
§ Terjadi limbah padat
4. Karena Pertambangan
• Aktivitas pertambangan dan pengecoran logam: menyebabkan pencemaran air dan pencemaran udara khususnya gas sulfur dioksida.
• Akibat penambangan: lingkungan bekas penambangan rusak, supaya baik maka harus direklamasi kembali.
Ekosistem Buatan yaitu ekosistem yang sengaja dibuat oleh manusia. Misalnya, kolam, waduk, sawah, ladang, dan tanam. Pada umumnya, ekosistem buatan mempunyai komponen biotik sesuai dengan yang diinginkan pembuatnya. Pada ekosistem sawah, komponen biotik yang banyak, yaitu padi dan kacang.
Ragam Ekosistem Pertanian. Apabila manusia mengadakan usaha pertanian maka ia memerlukan lahan usaha yang biasanya diambil dari suatu ekosistem alam yang sudah ada dalam kesetimbangan. Kalau lahan itu diambil dari hutan, maka yang biasanya dilakukan adalah menebang pohon-pohon yang ada di hutan tersebut kemudian menanami lahan yang terbuka dengan tanaman yang dibutuhkan untuk kehidupannya. Perubahan dalam sistem pertanian menimbulkan banyak masalah yang tidak dapat diatasi oleh pola pertanian secara tradisional. Praktik-praktik pertanian tradisional ini sering dianggap statis, seakan-akan dicapai secara kebetulan pada suatu saat dalam proses evolusi dan ditiru tanpa pertimbangan lebih jauh dari generasi ke generasi. Pola pertanian tradisional ini terbukti tidak berkelanjutan, tidak dapat dipertahankan karena sistem ini akan mengakibatkan perubahan kondisi lingkungan dan tekanan dari peningkatan populasi penduduk yang melebihi kapasitas daya dukung. Pada waktu ini kita temui berbagai sistem yang berbeda baik tingkat efisiensi teknologinya maupun tanaman yang diusahakan. Sistem pertanian dan aktivitas-aktivitas yang terkait ditentukan oleh tanah, iklim, tenaga kerja, modal, yang kesemuanya diupayakan untuk menjaga kesetimbangan lingkungan. Faktor yang mempengaruhi ekosistem
suatu makhluk hidup akan selalu membutuhkan makhluk hidup lain dan lingkungan hidupnya. Hubungan yang terjadi antara individu dengan lingkungannya bersifat saling mempengaruhi atau timbal balik. Hubungan timbal balik antara unsur-unsur biotik (produsen, konsumen, dan pengurai) dengan abiotik (cahaya, udara, air, tanah, suhu, dan mineral) membentuk sistem ekologi yang disebut ekosistem.
Untuk menjaga keseimbangan ekosisitem rantai makanan sangat berperan penting. Rantai makanan adalah pengalihan energi dari sumbernya dalam tumbuhan melalui sederetan organisme yang makan dan yang dimakan. Rantai makanan yang tidak terputus dapat menandai keseimbangannya ekosistem. Secara alami, alamlah yang mengatur keseimbangan ekosistem dengan mengontrol hubungan antara komponen biotik dan abiotik. Namun, sekarang aktivitas manusia juga banyak yang mempengaruhi keseimbangan ekosistem, misalnya:
suatu makhluk hidup akan selalu membutuhkan makhluk hidup lain dan lingkungan hidupnya. Hubungan yang terjadi antara individu dengan lingkungannya bersifat saling mempengaruhi atau timbal balik. Hubungan timbal balik antara unsur-unsur biotik (produsen, konsumen, dan pengurai) dengan abiotik (cahaya, udara, air, tanah, suhu, dan mineral) membentuk sistem ekologi yang disebut ekosistem.
Untuk menjaga keseimbangan ekosisitem rantai makanan sangat berperan penting. Rantai makanan adalah pengalihan energi dari sumbernya dalam tumbuhan melalui sederetan organisme yang makan dan yang dimakan. Rantai makanan yang tidak terputus dapat menandai keseimbangannya ekosistem. Secara alami, alamlah yang mengatur keseimbangan ekosistem dengan mengontrol hubungan antara komponen biotik dan abiotik. Namun, sekarang aktivitas manusia juga banyak yang mempengaruhi keseimbangan ekosistem, misalnya:
§ Penebangan hutan secara liar
§ Pengeboran minyak lepas pantai
§ Pembuangan sampah atau limbah
§ Penggunaan pupuk buatan dan pestisida berlebihan
§ Pembakaran hutan
§ Penangkapan ikan tanpa kendali
§ Perusakan terumbu karang
Contoh-contoh diatas adalah salah satu contoh dari sekian banyak tingkah laku manusia yang mempengaruhi keseimbangan ekosisem.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar