Selasa, 01 Februari 2011

Andai Aku Jadi Jupernicus communis (Pohon Taiga)

Andai aku jadi pohon taiga (Jupernicus communis) maka aku akan merasa menjadi makhluk yang sangat bernilai di muka bumi ini. Kenapa? Karena aku adalah pohon yang memiliki manfaat di banyak bidang dalam kehidupan ini. Bagaimana tidak bermanfaat, aku adalah bahan baku pulp-paper (bubur kertas). Manusia pasti membutuhkan aku karena kertas adalah salah satu barang yang berguna bagi mereka untuk menulis, mencetak, dan masih banyak lagi. Aku senang karena aku bisa bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Aku hidup di bioma taiga atau hutan konifer bersama teman-teman flora lainnya seperti pinus, alder, cemara dan masih banyak lagi. Aku senang jika aku hidup dan jika salah satu bagian tubuhku bisa dijadikan bahan baku yang berguna bagi kebutuhan manusia. Namun, aku sangat merasa sedih dan marah ketika manusia mulai bertindak semau mereka terhadap diriku dan teman-teman floraku yang lainnya. Saat manusia mulai menebang aku dan yang lainnya secara liar tanpa pernah melakukan bahkan berpikir untuk melestarikan jenisku. Aku bersedih ketika bukan hanya aku dan jenisku yang terkena dampak dari kelakuan mereka. Hutan, tempat aku tinggal dan juga fauna-fauna lainnya pun ikut terkena imbasnya. Bagaimana tidak, fungsiku bukan hanya sebagai bahan baku pulp-paper, tapi aku juga berguna sebagai penahan curah hujan yang berlebihan, pencegah terjadinya banjir, longsor dan masih banyak lagi. Jika aku dan teman-temanku ditebang habis, rusak dan goyahlah stabilitas ekosistem tempatku tinggal. Hutan tak mampu lagi menahan curah hujan, banyak fauna yang mulai punah, dan dampak akhirnya juga berimbas pada manusia. Jika jenisku langka maka mereka akan susah untuk membuat kertas lagi.
Terlebih yang membuat aku marah dan sedih, bahan baku pulp-paper yang aku hasilkan diolah di pabrik yang kemudian menghasilkan limbah beracun. Limbah beracun itu akhirnya dibuang ke ekosistem tempat aku tinggal. Dengan kata lain, aku dan teman-temanku lagi yang akan terkena imbasnya. Tanah, tempat aku tumbuh akan tercemar, air sebagai bahan fotosintesisku pun ikut tercemar, bahkan udara pun ikut tercemar. Kalau seperti ini terus aku tak bisa berfotosintesis lagi dan aku akan mati, ekosistemku akan marah dan mulailah akan terjadi bencana. Maka, jika aku bisa berbicara dengan manusia, aku akan berkata “jagalah aku, teman-temanku, dan ekosistemku maka aku dan mereka akan memberikan dampak yang baik untukmu”. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar