Selasa, 01 Februari 2011

PERMASALAHAN LINGKUNGAN DI EKOSISTEM HUTAN DAN EKOSISTEM BINAAN MANUSIA

A.     EKOSISTEM HUTAN

            Hutan yang sangat sering ditemui di wilayah negara Indonesia adalah hutan hujan tropis. Adapun ciri-ciri dari hutan hujan tropis adalah :
      Umumnya terletak di daerah katulistiwa
      Merupakan ekosistem dengan keanekaragaman yang tinggi
      Curah hujan tinggi (200-450 cm pertahun)
      Mendapat sinar matahari sepanjang tahun

                     Menurut Nilson (1996) dalam Gardner & Engelman di tahun 1999, hutan memiliki beberapa fungsi yaitu sebadai berikut :
1.   Menghasilkan kayu industri
2.   Menghasilkan kayu bakar & arang
3.   Menghasilkan hasil hutan bukan kayu
4.   Menyediakan lahan untuk permukiman manusia
5.   Menyediakan lahan untuk lahan pertanian
6.   Memberikan perlindungan thd siklus air dalam DAS & pengendalian erosi
7.   Tempat penyimpanan karbon
8.   Pemeliharaan keanekaragaman hayati dan habitat
9.   Obyek ekoturisme dan rekreasi alam

            Seperti yang telah kita ketahui, semakin besar dan penting fungsi hutan maka semakin besar pula kegunaannya bagi kehidupan manusia. Sehingga manusia akan memanfaatkan fungsi hutan tersebut agar dapat menjadi sumber daya yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun, secara tidak disadari pengelolaan yang tidak berbasis pada pelestarian lingkungan mengakibatkan masalah-masalah yang dialami oleh ekosistem hutan tersebut. Masalah-masalah di ekosistem hutan yang sering terjadi antara lain :
1.      Kemiskinan di lingkungan hutan.
2.      Penggundulan hutan dan penebangan hutan secara liar dan illegal.
3.      Menggunakan pembiayaan karbon global untuk mengurangi kerusakan hutan.
4.      Kebakaran
5.      Angin
6.      Serangga penyakit
7.      Satwa herbifora
8.      Ternak
9.      Konversi, dll

            Masalah-masalah yang terjadi di ekosistem tersebut tentu akan mengganggu stabilitas hutan tersebut. Pada akhirnya, muncul akibat-akibat yang sangat fatal dan kini sering terjadi di kehidupan manusia yang pasti merugikan mausia itu sendiri.   Adapun akibat yang terjadi dari masalah-masalah yang ada di ekosistem hutan yaitu:
1.      Penggundulan hutan tropis merupakan penyumbang besar atas gas rumah kaca global. Akibat dari gas rumah kaca global (Global Warming) ini adalah menipisnya lapisan ozon; pemanasan global (kadar CO2 yang tinggi akibat aktivitas manusia menyebabkan suhu permukaan bumi meningkat); efek rumah kaca.
2.      Penebangan hutan secara liar juga dapat  menyebabkan :
§  Peningkatan suhu udara
§  Terjadinya banjir
§  Krisis air
§  Punahnya banyak spesies makhluk hidup
§  Polusi udara semakin meningkat

Contoh nyata dari kerusakan hutan yang sedang terjadi di Indonesia adalah masalah hutan di Aceh. Pasca Tsunami yang terjadi di Aceh, kejadian illegal logging makin marak terdengar. Selain itu, terjadi pula aktivitas konversi hutan ke peruntukan lain misalnya, investasi perkebunan skala besar baik sebelum dan yang akan datang, pembangunan jalan yang merusak kawasan hutan. Masalah lain yang terjadi di Aceh yaitu terancam rusaknya kawasan konservasi dan lindung akibat illegal logging dan perdagangan kayu illegal yang disebabkan penjualan kayu illegal dari aceh keluar aceh. Hal ini disebabkan juga karena sistem pengelolaan yang eksploitatif (berbasis ekonomi/pad). Kemudian, masalah yang sering terdengar adalah masalah regulasi yang tidak berbasis pada pengelolaan  berkelanjutan (qanun 14 dan 15 ttg kehutanan dan perijinan kehutanan), lemahnya pengawasan dan kontrol (kkn, sdm, dll), minimnya akses masyarakat dalam pengelolaan hutan, kebutuhan kayu untuk rekonstruksi (desakan untuk mempercepat pembangunan pemukiman dan sarana lainnya) serta konflik satwa liar dan manusia (gajah dan harimau).

Munculnya masalah-masalah di ekosistem hutan dan melihat dampak-dampak yang akan terjadi dari masalah tersebut, seharusnya kita sebagai manusia yang memanfaatkan sumber daya yang tersedia di hutan lebih memperhatikan kelestarian hutan tersebut. Hal-hal yang dapat kita lakukan antara lain adalah sebagai berikut :
1.      Menjaga lingkungan kita agar dapat terus menyediakan  sumberdaya yang dibutuhkan.
2.      Menjaga lingkungan kita agar berada dalam kondisi yang diperlukan.
3.      Cegah penyebaran kebakaran hutan, terutama di tanah gambut.
4.      Clarify kepemilikan tanah dan pohon.
5.      Mendukung wanatani oleh petani kecil.
6.      Tegakkan hukum terhadap penggundulan hutan ilegal, terutama oleh organisasi berskala besar.
7.      Mengelola lingkungan untuk produksi dan layanan lingkungan.
8.      Cegah pembukaan lahan dan pengambilan kayu yang tidak teratur.


B.     EKOSISTEM BINAAN MANUSIA

                     Ekosistem binaan membutuhkan pengelolaan dan penambahan energi/materi oleh manusia agar dapat dipertahankan dalam kondisinya. Ekosistem binaan/terbangun terdiri dari waduk, lahan pertanian, pertambangan, pertanian, industri, peternakan, perkebunan, dan sebagainya.
                     Adapun masalah yang sering terjadi di ekosistem binaan manusia adalah sebagai berikut :
         Kekeringan sehingga terjadi kegagalan panen.
         Hama dan hewan perusak tanaman di lahan pertanian dan perkebunan.
         Tidak tersedianya lahan yang cukup.
         Rusaknya tanaman akibat curah hujan yang berlebihan.
         Muncul berbagai penyakit yang menyerang hewan ternak.
         Penggunaan pestisida yang terlalu banyak.
         Pembuangan limbah industri dan tambang yang kurang terkoordinir.
         Kurangnya fasilitasi yang menunjang kegiatan produksi.
         Dll.  
                     Namun secara tidak disadari, ekosistem binaan manusia tersebut menimbulkan permasalahan lingkungan yang serius akibat pengelolaan yang kurang baik. Masalah lingkungan yang ditimbulkan antara lain :
         1.   Karena Pertanian
§  Pembukaan hutan (kegiatan pembabat-an dan pembakaran) dapat menghilangkan keanekaragaman hayati.
§  Karena pertanian berpindah:  maka fungsi hutan menjadi padang rumput.
§  Kerusakan lingkungan yang terjadi:
o   Pada musim kemarau: terjadi kekeringan (el nino).
o   Pada musim hujan: terjadi banjir (la nina).
         2.   Karena Peternakan
§  Karena jumlah penduduk meningkat, maka kebutuhan makan juga meningkat: kebutuhkan hewan meningkat.
§  Untuk peternakan dibutuhkan lahan dan tumbuh2an sehingga lahan jadi tandus.
         3.   Karena Industrialisasi
§  Kebutuhan eksplorasi minyak bumi meningkat, sehingga
§  Terjadi pencemaran udara
§  Terjadi pencemaran air
§  Terjadi limbah padat
         4.   Karena Pertambangan
         Aktivitas pertambangan dan pengecoran logam: menyebabkan pencemaran air dan pencemaran udara khususnya gas sulfur dioksida.
         Akibat penambangan: lingkungan bekas penambangan rusak, supaya baik maka harus direklamasi kembali.
Ekosistem Buatan yaitu ekosistem yang sengaja dibuat oleh manusia. Misalnya, kolam, waduk, sawah, ladang, dan tanam. Pada umumnya, ekosistem buatan mempunyai komponen biotik sesuai dengan yang diinginkan pembuatnya. Pada ekosistem sawah, komponen biotik yang banyak, yaitu padi dan kacang.

Ragam Ekosistem Pertanian. Apabila manusia mengadakan usaha pertanian maka ia memerlukan lahan usaha yang biasanya diambil dari suatu ekosistem alam yang sudah ada dalam kesetimbangan. Kalau lahan itu diambil dari hutan, maka yang biasanya dilakukan adalah menebang pohon-pohon yang ada di hutan tersebut kemudian menanami lahan yang terbuka dengan tanaman yang dibutuhkan untuk kehidupannya. Perubahan dalam sistem pertanian menimbulkan banyak masalah yang tidak dapat diatasi oleh pola pertanian secara tradisional. Praktik-praktik pertanian tradisional ini sering dianggap statis, seakan-akan dicapai secara kebetulan pada suatu saat dalam proses evolusi dan ditiru tanpa pertimbangan lebih jauh dari generasi ke generasi. Pola pertanian tradisional ini terbukti tidak berkelanjutan, tidak dapat dipertahankan karena sistem ini akan mengakibatkan perubahan kondisi lingkungan dan tekanan dari peningkatan populasi penduduk yang melebihi kapasitas daya dukung. Pada waktu ini kita temui berbagai sistem yang berbeda baik tingkat efisiensi teknologinya maupun tanaman yang diusahakan. Sistem pertanian dan aktivitas-aktivitas yang terkait ditentukan oleh tanah, iklim, tenaga kerja, modal, yang kesemuanya diupayakan untuk menjaga kesetimbangan lingkungan. Faktor yang mempengaruhi ekosistem
suatu makhluk hidup akan selalu membutuhkan makhluk hidup lain dan lingkungan hidupnya. Hubungan yang terjadi antara individu dengan lingkungannya bersifat saling mempengaruhi atau timbal balik. Hubungan timbal balik antara unsur-unsur biotik (produsen, konsumen, dan pengurai) dengan abiotik (cahaya, udara, air, tanah, suhu, dan mineral) membentuk sistem ekologi yang disebut ekosistem.
Untuk menjaga keseimbangan ekosisitem rantai makanan sangat berperan penting. Rantai makanan adalah pengalihan energi dari sumbernya dalam tumbuhan melalui sederetan organisme yang makan dan yang dimakan. Rantai makanan yang tidak terputus dapat menandai keseimbangannya ekosistem. Secara alami, alamlah yang mengatur keseimbangan ekosistem dengan mengontrol hubungan antara komponen biotik dan abiotik. Namun, sekarang aktivitas manusia juga banyak yang mempengaruhi keseimbangan ekosistem, misalnya:
§  Penebangan hutan secara liar
§  Pengeboran minyak lepas pantai
§  Pembuangan sampah atau limbah
§  Penggunaan pupuk buatan dan pestisida berlebihan
§  Pembakaran hutan
§  Penangkapan ikan tanpa kendali
§  Perusakan terumbu karang
            Contoh-contoh diatas adalah salah satu contoh dari sekian banyak tingkah laku manusia yang mempengaruhi keseimbangan ekosisem.

Andai Aku Jadi Jupernicus communis (Pohon Taiga)

Andai aku jadi pohon taiga (Jupernicus communis) maka aku akan merasa menjadi makhluk yang sangat bernilai di muka bumi ini. Kenapa? Karena aku adalah pohon yang memiliki manfaat di banyak bidang dalam kehidupan ini. Bagaimana tidak bermanfaat, aku adalah bahan baku pulp-paper (bubur kertas). Manusia pasti membutuhkan aku karena kertas adalah salah satu barang yang berguna bagi mereka untuk menulis, mencetak, dan masih banyak lagi. Aku senang karena aku bisa bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Aku hidup di bioma taiga atau hutan konifer bersama teman-teman flora lainnya seperti pinus, alder, cemara dan masih banyak lagi. Aku senang jika aku hidup dan jika salah satu bagian tubuhku bisa dijadikan bahan baku yang berguna bagi kebutuhan manusia. Namun, aku sangat merasa sedih dan marah ketika manusia mulai bertindak semau mereka terhadap diriku dan teman-teman floraku yang lainnya. Saat manusia mulai menebang aku dan yang lainnya secara liar tanpa pernah melakukan bahkan berpikir untuk melestarikan jenisku. Aku bersedih ketika bukan hanya aku dan jenisku yang terkena dampak dari kelakuan mereka. Hutan, tempat aku tinggal dan juga fauna-fauna lainnya pun ikut terkena imbasnya. Bagaimana tidak, fungsiku bukan hanya sebagai bahan baku pulp-paper, tapi aku juga berguna sebagai penahan curah hujan yang berlebihan, pencegah terjadinya banjir, longsor dan masih banyak lagi. Jika aku dan teman-temanku ditebang habis, rusak dan goyahlah stabilitas ekosistem tempatku tinggal. Hutan tak mampu lagi menahan curah hujan, banyak fauna yang mulai punah, dan dampak akhirnya juga berimbas pada manusia. Jika jenisku langka maka mereka akan susah untuk membuat kertas lagi.
Terlebih yang membuat aku marah dan sedih, bahan baku pulp-paper yang aku hasilkan diolah di pabrik yang kemudian menghasilkan limbah beracun. Limbah beracun itu akhirnya dibuang ke ekosistem tempat aku tinggal. Dengan kata lain, aku dan teman-temanku lagi yang akan terkena imbasnya. Tanah, tempat aku tumbuh akan tercemar, air sebagai bahan fotosintesisku pun ikut tercemar, bahkan udara pun ikut tercemar. Kalau seperti ini terus aku tak bisa berfotosintesis lagi dan aku akan mati, ekosistemku akan marah dan mulailah akan terjadi bencana. Maka, jika aku bisa berbicara dengan manusia, aku akan berkata “jagalah aku, teman-temanku, dan ekosistemku maka aku dan mereka akan memberikan dampak yang baik untukmu”. 

JUMLAH ERITROSIT DAN LEUKOSIT

I.       JUDUL                         :  JUMLAH ERITROSIT DAN LEUKOSIT

II.     TUJUAN                      :  Menghitung jumlah eritrosit dan leukosit pada mencit.

III.    TEORI
Darah merupakan gabungan dari cairan, sel-sel dan partikel yang menyerupai sel, yang mengalir dalam arteri, kapiler dan vena; yang mengirimkan oksigen dan zat-zat gizi ke jaringan dan membawa karbon dioksida dan hasil limbah lainnya. KOMPONEN CAIRAN. Lebih dari separuh bagian dari darah merupakan cairan (plasma), yang sebagian besar mengandung garam-garam terlarut dan protein. Protein utama dalam plasma adalah albumin. Protein lainnya adalah antibodi (imunoglobulin) dan protein pembekuan. Plasma juga mengandung hormon-hormon, elektrolit, lemak, gula, mineral dan vitamin.
Selain menyalurkan sel-sel darah, plasma juga:
-     Merupakan cadangan air untuk tubuh
-     Mencegah mengkerutnya dan tersumbatnya pembuluh darah
-     Membantu mempertahankan tekanan darah dan sirkulasi ke seluruh tubuh.
Bahkan yang lebih penting, antibodi dalam plasma melindungi tubuh melawan bahan-bahan asing (misalnya virus, bakteri, jamur dan sel-sel kanker), ketika protein pembekuan mengendalikan perdarahan. Selain menyalurkan hormon dan mengatur efeknya, plasma juga mendinginkan dan menghangatkan tubuh sesuai dengan kebutuhan.




KOMPONEN SEL
-       Sel darah merah (eritrosit).
Merupakan sel yang paling banyak dibandingkan dengan 2 sel lainnya, dalamkeadaan normal mencapai hampir separuh dari volume darah. Sel darah merah mengandung hemoglobin, yang memungkinkan sel darah merah membawa oksigen dari paru-paru dan mengantarkannya ke seluruh jaringan tubuh. Oksigen dipakai untuk membentuk energi bagi sel-sel, dengan bahan limbah berupa karbon dioksida, yang akan diangkut oleh sel darah merah dari jaringan dan kembali ke paru-paru.

-       Sel darah putih (leukosit)
Jumlahnya lebih sedikit, dengan perbandingan sekitar 1 sel darah putih untuk setiap 660 sel darah merah. Terdapat 5 jenis utama dari sel darah putih yang bekerja sama untuk membangun mekanisme utama tubuh dalam melawan infeksi, termasuk menghasilkan antibodi.

-       Neutrofil, juga disebut granulosit karena berisi enzim yang mengandung granul-granul, jumlahnya paling banyak. Neutrofil membantu melindungi tubuh melawan infeksi bakteri dan jamur dan mencerna benda asing sisa-sisa peradangan.
Ada 2 jenis neutrofil, yaitu neutrofil berbentuk pita (imatur, belum matang) dan neutrofil bersegmen (matur, matang).

-     Limfosit memiliki 2 jenis utama, yaitu limfosit T (memberikan perlindungan terhadap infeksi virus dan bisa menemukan dan merusak beberapa sel kanker) dan limfosit B (membentuk sel-sel yang menghasilkan antibodi atau sel plasma).

-       Monosit mencerna sel-sel yang mati atau yang rusak dan memberikan perlawanan imunologis terhadap berbagai organisme penyebab infeksi.
-       Eosinofil membunuh parasit, merusak sel-sel kanker dan berperan dalam respon alergi.
-       Basofil juga berperan dalam respon alergi.
-       Platelet (trombosit).
Merupakan paritikel yang menyerupai sel, dengan ukuran lebih kecil daripada sel darah merah atau sel darah putih.

Ketiga jenis sel darah ; leukosit. eritrosit dan trombosit dihitung jumlahnya persatuam volume darah dengan terlebih dahulu membuat pengenceran dari darah yang akan diperiksa. Cara-cara menghitung sel darah secara manual dengan memakai pipet dan kamar hitung tetap menjadi upaya penting dalam laboratorium klinik, terutama di daerah yang masih belum mempunyai sarana laboratorium yang lengkap.

Menghitung Leukosit
Darah diencerkan dalam pipet leukosit, kemudian dimasukkan ke dalam kamar hitung. jumlah leukosit dihitung dengan volume tertentu ; dengan mengenakan faktor konversi jumlah leukosit per ul darah dapat diperhitungkan. larutan TURK digunakan sebagai larutan pengencer, dengan komposisi : larutan gentianviolet 1% dalam air 1 ml, asam asetat glasial 1 ml, aquadest ad 100 ml. saringlah sebelum dipakai.
·               Perhitungan
Pengenceran yang dilakukan pada pipet adalah 20 kali. Jumlah semua sel yang dihitung dalam keempat bidang itu dibagi 4 menunjukkan jumlah leukosit dalam 0,1 ul. Kalikan angka tersebut dengan 10 (untuk tinggi) dan 20 (untuk pengenceran) untuk mendapatkan jumlah leukosit dalam 1 ul darah. Jumlah sel yang terhitung dikali 50 = jumlah leukosit per ul darah.
Catatan :   Pengenceran yang lazim digunakan untuk menghitung leukosit adalah 20 kali, tetapi menurut keadaan (leukositosis tinggi atau leukopenia) pengenceran dapat diubah sesuai keadaan tersebut, lebih tinggi pada leukositosis dan lebih rendah pada leukopenia. Sedian darah dengan oxalat yang tidak segera dipakai ada kemungkinan terjadi penggumpalan leukosit. Jika darah tepi banyak mengandung sel darah merah berinti maka sel tersebut akan diperhitungkan seperti leukosit, untuk koreksi dapat dilakukan pemeriksaan sedian hapus yang dipakai untuk hitung jenis leukosit, persentase sel darah merah berinti di catat. misalnya ; didapatkan 10.000 leukosit per ul darah dan dari hitung jenis didapatkan tiap 100 leukosit ada 25 sel darah merah berinti, maka jumlah leukosit yang sebenarnya adalah :
http://yayanakhyar.files.wordpress.com/2010/03/belibisa17-rumus_koreksi_leukosit.jpg?w=300&h=39 



Menghitung Eritrosit
Darah diencerkan dalam pipet eritrosit, kemudian dimasukkan kedalam kamar hitung. Jumlah eritrosit dihitung dalam volume tertentu ; dengan menggunakan faktor konversi, jumlah eritrosit per ul darah dapat diperhitungkan. larutan pengencer yang dipakai adalah larutan HAYEM, dengan komposisi : natrium sulfat (berair kristal) 5 g; natrium klorida 1 g; merkuri klorida 0,5 g, aquadest ad 200 ml. Juga boleh dipakai larutan GOWERS : natrium sulfat 12,5 g; asam asetat glasial 33,3 ml; aquadest ad 200 ml. Saringlah sebelum dipakai.
·               Perhitungan
Pengenceran dalam pipet eritrosit adalah 200 kali. Luas tiap bidang kecil 1/400 mm kuatdrat, tinggi kamar hitung 1/10 mm, sedangkan eritrosit yang dihitung dalam 5 x 16 bidang kamar kecil = 80 bidang kecil, yang jumlah luasnya 1/5 mm kuatdrat. Faktor untuk mendapatkan jumlah eritrosit dalam ul darah menjadi 5 x 10 x 200 = 10.000
Catatan :   Pengenceran yang lazim dipakai untuk menghitung eritrosit adalah 200 x; tetapi menurut keadaan (eritrositosis atau anemia) dapat diubah sesuai dengan keadaan itu. untk mengecilkan kesalahan sekurang-kurangnya harus 400 eritrosit dihitung dalam kamar hitung. Menghitung eritrosit dengan kamar hitung lebih sukar dibanding dengan menghitung leukosit dan dibutuhkan ketelitian yang lebih.

IV.    ALAT DAN BAHAN 
Alat                                
·         Hemasitometer
·         Mikroskop
·         Counter
·         Jarum Franke

Bahan
·         Darah kelinci/tikus
·         Alkohol 70%
·         Larutan Hayem
·         Larutan turk

V.     PROSEDUR KERJA
1)      Bagian yang akan diambil darahnya (kelinci, tikus) diusap dengan kapas beralkohol.
2)      Seteleh darah keluar, ujung pipet eritosit ditempelkan (dengan tanda merah didalamnya) dan darah diisap sampai angka 0,5 kemudian diencerkan dengan larutan Hayem sampai batas seratus satu, pipa karet diikatkan pada pipetnya dan kocok perlahan – lahan dengan membentuk goyangan angka delapan.
3)      Sebelum darah diisikan pada bilik hitung, terlebih dahulu bilik hitung dipersiapkan di bawah mikroskop yang mempunyai gambaran seperti berikut (Gambar 5.1).
4)      Untuk menghitung jumlah eritrosit digunakan kotak – kotak kecil di tengah. Eritrosit dihitung dalam 80 kotak kecil.
5)      Jumlah eritrosit/cc = Hasil yang diperoleh dikalikan dengan 106.
6)      Untuk menghitung jumlah leukosit, ujung pipet leukosit (yang bertanda butiran putih pada pipetnya)ditempelkan dan  darah diisapkan sampai angka 0.5. Kemudian diencerkan dengan larutan turk sampai angka 11. Pipa plastik diikatkan pada pipetnya agar darah tidak keluar dan dikocok perlahan – lahan  dengan putaran membentuk angka delapan sampai homogen.
7)      Kotak yang digunakan untuk menghitung leukosit adalah kotak besar yang ada pada kiri/kanan atas dan ujung kiri/kanan bawah. Dihitung leukosit sebanyak 4 x 16 kotak = 64 kotak (Gambar 5.2).
8)      Jumlah Leukosit/cc = jumlah leukosit dalam 64 kotak x 50.

VI.    PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini terdiri dari dua kgiatan,yang pertama adalah menghitung jumlah eritrosit mencit dan yang kedua menghitung jumlah leukosit mencit.
Untuk menghitung eritrosit langkah pertama yang dilakukan adalah menghisap darah mencit dengan menggunakan pipet eritrosit hingga batas angaka 0,5. Kemudian encerkan hingga batas 101, lalu dikocok,proses penambahan larutan pengenceran harus cepat agar darah tidak menggumpal.  Kemudian dimasukkan kedalam kamar hitung. larutan pengencer yang dipakai adalah larutan Hayem, yang mempunyai  komposisi : natrium sulfat (berair kristal) 5 g; natrium klorida 1 g; merkuri klorida 0,5 g, aquadest ad 200 ml. fungsi larutan Hayem ini adalah untuk. Jumlah eritrosit dihitung dalam volume tertentu ; dengan menggunakan faktor konversi, jumlah eritrosit perlu darah dapat diperhitungkan.
Untuk menghitung jumlah eritrosit digunakan kotak - kotak kecil di tengah, eritrosit yang dihitung dalam 5 x 16 bidang kamar kecil = 80 bidang kecil atau kotak kecil. Kotak yang dihitung adalah kotak pada  kanan atas dan bawah, kotak di  kiri atas dan bawah, dan kotak yang berada ditengah. Dan didapatkan jumlah sebagai berikut:

Posisi kotak
Jumlah Eritrosit
Kanan atas
66
Kanan bawah
68
Tengah
63
Kiri atas
67
Kiri bawah
69
Jumlah (80 kotak)
333
Jumlah eritrosit/cc
Jumlah eritrosit  dalam 80 kotak x 106
= 333 x 106
= 333.000.000 / cc

Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah eritrosit darah mencit kontrol (Eritrosit = 3,55 x 106 butir/mm3 , hemoglobin = 10,50 g/100 mL, nilai hematokrit = 45,50%). Sedangkan, jumlah eritrosit pada mencit yang kami amati adalah 333.000.000 / cc.
Jumlah eritrosit sangat bervariasi antara individu yang satu dengan yang lainnya. Jumlah eritrosit dipengaruhi oleh jenis kelamin, umur, kondisi tubuh, variasi harian, dan keadaan stress. Banyaknya jumlah eritrosit juga disebabkan oleh ukuran sel darah itu sendiri (Schmidt dan Nelson, 1990).  Dallman dan Brown (1987) menyatakan bahwa, hewan yang memiliki sel darah kecil, jumlahnya banyak. Sebaliknya yang ukurannya lebih besar akan mempunyai jumlah yang lebih sedikit. Jumlah sel darah merah yang banyak, juga menunjukkan besarnya aktivitas hewan tersebut. Hewan yang aktif bergerak/beraktivitas akan memiliki eritrosit dalam jumlah yang banyak pula, karena hewan yang aktif akan mengkonsumsi banyak oksigen, dimana eritrosit sendiri mempunyai fungsi sebagai transport oksigen dalam darah.
Kegiatan selanjutnya adalah menghitung jumlah leukosit pada mencit, langkah-langkah yang dilakukan sama seperti menghitung eritrosit. Yang berbeda adalah pipet yang digunakan adalah pipet Leukosit dan larutan pengencernya adalah larutan Truk yang mempunyai komposisi berupa : larutan gentian violet 1% dalam 1 mL air, asam asetat glacial 1 mL, aquadest ad 100 ml. larutan Turk berwarna ungu karena penambahan larutan gentian violet yang bertujuan untuk memberi warna pada inti dari granula leukosit dimana larutan ini memecah eritrosit dan trombosit, tetapi tidak memecah leukosit maupun eritrosit berinti. Dan kotak yang digunakan untuk menghitung leukosit adalah :

Posisi Kotak
Jumlah Leukosit
Kanan atas
9
Kanan bawah
10
Kiri atas
11
Kiri bawah
5
Jumlah (64 kotak)
35
Jumlah leukosit / cc
Jumalah Leukosit dalam 64 kotak x 50
= 35 x 50
= 1750 / cc

Leukosit dalam darah jumlahnya lebih sedikit daripada eritrosit dengan rasio 1 : 700 (Frandson, 1992). Jumlah leukosit tergantung  jenis  hewannya.  Fluktuasi jumlah leukosit pada tiap individu cukup besar pada kondisi tertentu seperti stres, umur, aktifitas fisiologis dan lainnya. Leukosit berperan penting dalam pertahanan seluler dan  humoral organisme terhadap benda-benda asing.  Jumlah leukosit lebih banyak diproduksi jika kondisi tubuh sedang sakit apabila dalam sirkulasi darah jumlah leukositnya lebih sedikit dibanding dengan eritrositnya (Pearce, 1989). Kimball (1988) menyatakan bahwa, sel darah putih berperan dalam melawan infeksi.
Hewan yang terinfeksi akan mempunyai jumlah leukosit yang banyak, karena leukosit berfungsi melindungi tubuh dari infeksi. Penurunan jumlah leukosit dapat terjadi karena infeksi usus, keracunan bakteri, septicoemia, kehamilan, dan partus. Menurut Soetrisno (1987), jumlah leukosit dipengaruhi oleh kondisi tubuh, stress, kurang makan atau disebabkan oleh faktor lain. Faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah eritrosit dan leukosit yaitu tergantung pada spesies dan kondisi pakannya, selain itu juga bahan organik yang terkandung seperti glukosa, lemak, urea, asam urat, dan lainnya.

VII.  JAWABAN PERTANYAAN
a.       Apakah fungsinya larutan Hayem ?
Jawab  :  Larutan Hayem dibuat dari campuran senyawa natrium sulfat (berair kristal) 5g, natrium klorida 1g, merkuri klorida 0,5g dan air ditambahkan hingga volumenya menjadi 200 ml. Larutan harus disaring sebelum dipakai. Fungsinya untuk mengencerkan darah merah (eritrosit) dalam pipet eritrosit, lalu kemudian dimasukkan kedalam kamar hitung Hemasitometer.

b.      Apa bedanya pengenceran dalam penghitung eritrosit dan leukosit ?
Jawab  :  Leukosit
               Darah diencerkan dalam pipet leukosit, kemudian dimasukkan ke dalam kamar hitung. jumlah leukosit dihitung dengan volume tertentu; dengan mengenakan faktor konversi jumlah leukosit per ul darah dapat diperhitungkan. larutan TURK digunakan sebagai larutan pengencer, dengan komposisi : larutan gentianviolet 1% dalam air 1 ml, asam asetat glasial 1 ml, aquadest 100 ml. saringlah sebelum dipakai. Pengenceran yang dilakukan pada pipet adalah 20 kali. Jumlah semua sel yang dihitung dalam keempat bidang itu dibagi 4 menunjukkan jumlah leukosit dalam 0,1 ul. Kalikan angka tersebut dengan 10 (untuk tinggi) dan 20 (untuk pengenceran) untuk mendapatkan jumlah leukosit dalam 1 ul darah. Singkatnya : Jumlah sel yang terhitung dikali 50 = jumlah leukosit per ul darah.

               Eritrosit
Darah diencerkan dalam pipet eritrosit, kemudian dimasukkan kedalam kamar hitung. Jumlah eritrosit dihitung dalam volume tertentu ; dengan menggunakan faktor konversi, jumlah eritrosit per ul darah dapat diperhitungkan. larutan pengencer yang dipakai adalah larutan HAYEM, dengan komposisi : natrium sulfat (berair kristal) 5 g; natrium klorida 1 g; merkuri klorida 0,5 g, aquadest ad 200 ml. Juga boleh dipakai larutan GOWERS : natrium sulfat 12,5 g; asam asetat glasial 33,3 ml; aquadest ad 200 ml. Saringlah sebelum dipakai. Pengenceran dalam pipet eritrosit adalah 200 kali. Luas tiap bidang kecil 1/400 mm kuatdrat, tinggi kamar hitung 1/10 mm, sedangkan eritrosit yang dihitung dalam 5 x 16 bidang kamar kecil = 80 bidang kecil, yang jumlah luasnya 1/5 mm kuatdrat. Faktor untuk mendapatkan jumlah eritrosit dalam ul darah menjadi 5 x 10 x 200 = 10.000

VIII.    KESIMPULAN
a.       Jumlah eritrosit (333.000.000/cc) pada mencit lebih banyak dibandingkan dengan jumlah leukositnya (1750/cc).
b.   Pengenceran yang dilakukan pada pipet leukosit adalah 20 kali. Pengenceran dalam pipet eritrosit adalah 200 kali.



DAFTAR PUSTAKA


Hazny, Filza. 2009. Darah. http://filzahazny.wordpress.com/2009/07/10/darah/. Diakses pada tanggal 9 November 2010.

Israr, Yayan A. 2009. Menghitung Sel-sel Darah. http:// yayanakhyar.wordpress.com/2010/03/26/lab-menghitung-sel-sel-darah/. Diakses pada tanggal 9 November 2010.

Pangestuti, Ratna Mega Dwi. 2009. Pengukuran Hematologi. http://megaspace007.wordpress.com/2009/12/24/pengukura-hematologi/. Diakses pada tanggal 9 November 2010.

Slamet, Adeng dan Mgs. M. Tibrani. 2010. Penuntun Praktikum Fisiologi Hewan. Inderalaya : Universitas Sriwijaya.